Masalah Indonesia, Kaya Gas Tapi Pipanya Tak Ada
Jakarta -Indonesia berlimpah
gas, namun banyak diekspor. Salah satunya karena infrastruktur pipa gas yang
minim untuk mengalirkan gas ke dalam negeri. Sehingga gas bumi tidak bisa
dinikmati masyarakat, padahal harganya jauh lebih murah dibandingkan
menggunakan elpiji.
Masalah ini terlihat contohnya seperti yang terjadi di Lapangan Kepodang yang dioperatori Petronas Carigali. Perusahaan asal Malaysia tersebut sudah siap mengucurkan gas hingga 100 juta kaki kubik per hari (mmscfd), namun sayangnya pipa gas yang seharusnya dibangun oleh PT Bakrie & Brothers Tbk belum terbangun.
"Oktober gas dari Lapangan Kepodang dari Petronas Carigali sudah siap (gasnya sudah mengucur), dari sisi hulu sudah siap," ujar Plt Kepala SKK Migas Johanes Widjonarko dalam pesan singkatnya, Jumat (30/1/2014).
Widjonarko mengatakan, Petronas Carigali bisa memproduksi gas bumi secara bertahap hingga mencapai 100 mmscfd. "Produksinya bertahap, pas mulai itu 20% dulu, lalu 50 mmscfd dan akhirnya 100 mmscfd," katanya.
Namun yang jadi masalah, Oktober gas sudah keluar, pipa untuk menyalurkan gas ke masyarakat dari Lau Jawa ke Semarang belum juga terbangun.
"Nah itu saya nggak tahu, nggak mau komentar, karena itu di hilir bukan di hulu," ucap Widjonarko.
Seperti diketahui, bila gas bumi sudah keluar maka wajib harus disalurkan. Bila dibiarkan saja, maka lama-kelamaan gas terbuang dan sumur gasnya mati.
Selama ini, bila infrastruktur pipa gas ke dalam negeri belum ada, gas bumi yang sudah terlanjur keluar hanya dibiarkan saja atau dijadikan LNG (liquefied natural gas) dan dijual ke luar negeri.
Sementara berdasarkan data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), pembangunan pipa transmisi gas bumi Kepodang-Tambang Lorok (Kalija I) sepanjang 202 km dengan diameter 14 cm dengan kapasitas 116 mmscfd harusnya dibangun PT Bakrie & Brothers Tbk.
Saat ini status sedang dalam persiapan konstruksi, penyiapan dokumen lelang EPC, Long Lead Items (pipa, compresor, metering dan lainnya) dan pengadaan Project Managemen Consultant dan Project Management Team.(sumber: Detik.com)
Masalah ini terlihat contohnya seperti yang terjadi di Lapangan Kepodang yang dioperatori Petronas Carigali. Perusahaan asal Malaysia tersebut sudah siap mengucurkan gas hingga 100 juta kaki kubik per hari (mmscfd), namun sayangnya pipa gas yang seharusnya dibangun oleh PT Bakrie & Brothers Tbk belum terbangun.
"Oktober gas dari Lapangan Kepodang dari Petronas Carigali sudah siap (gasnya sudah mengucur), dari sisi hulu sudah siap," ujar Plt Kepala SKK Migas Johanes Widjonarko dalam pesan singkatnya, Jumat (30/1/2014).
Widjonarko mengatakan, Petronas Carigali bisa memproduksi gas bumi secara bertahap hingga mencapai 100 mmscfd. "Produksinya bertahap, pas mulai itu 20% dulu, lalu 50 mmscfd dan akhirnya 100 mmscfd," katanya.
Namun yang jadi masalah, Oktober gas sudah keluar, pipa untuk menyalurkan gas ke masyarakat dari Lau Jawa ke Semarang belum juga terbangun.
"Nah itu saya nggak tahu, nggak mau komentar, karena itu di hilir bukan di hulu," ucap Widjonarko.
Seperti diketahui, bila gas bumi sudah keluar maka wajib harus disalurkan. Bila dibiarkan saja, maka lama-kelamaan gas terbuang dan sumur gasnya mati.
Selama ini, bila infrastruktur pipa gas ke dalam negeri belum ada, gas bumi yang sudah terlanjur keluar hanya dibiarkan saja atau dijadikan LNG (liquefied natural gas) dan dijual ke luar negeri.
Sementara berdasarkan data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), pembangunan pipa transmisi gas bumi Kepodang-Tambang Lorok (Kalija I) sepanjang 202 km dengan diameter 14 cm dengan kapasitas 116 mmscfd harusnya dibangun PT Bakrie & Brothers Tbk.
Saat ini status sedang dalam persiapan konstruksi, penyiapan dokumen lelang EPC, Long Lead Items (pipa, compresor, metering dan lainnya) dan pengadaan Project Managemen Consultant dan Project Management Team.(sumber: Detik.com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar